Benda-Benda Java Room Paling Disenangi Keluarga

Banyak histori dalam istana yang terletak di perbatasan Nurenberg-Stein,‭ ‬Jerman,‭ ‬ini.‭ ‬Bukan hanya kisah bisnis Faber-Castell di bidang alat tulis yang kini menginjak usia‭ ‬251‭ ‬tahun.‭ ‬Kastil itu juga menyimpan banyak benda seni dunia,‭ ‬termasuk dari Jawa.‭ ‬Berikut laporannya.

HAFID ABDURAHMAN‭ ‬-‭ ‬Jerman.

ENAM gambar wayang dalam bingkai kayu tertata rapi di dinding.‭ ‬Ejaan Indonesia lama menghiasi gambar-gambar itu.‭ ‬Ada Semmar,‭ ‬Ardjoena,‭ ‬hingga Djaja-Sena.‭ ‬Karakter tokoh wayang tersebut melengkapi citarasa Jawa di sebuah ruangan di Kastil Faber-Castell yang kini berusia‭ ‬109‭ ‬tahun.

Di sudut-sudut ruangan berukuran‭ ‬8‭ ‬x‭ ‬8‭ ‬meter itu,‭ ‬tampak pula beberapa mebel khas Jawa.‭ ‬Ada lemari dengan ornamen ukiran dari Jepara.‭ ‬Ada pula dua kursi panjang yang anyaman rotannya dibiarkan jebol.‭ ‬Sementara itu,‭ ‬di tengah ruangan,‭ ‬ada seperangkat meja-kursi kayu,‭ ‬juga bernuansa Jawa.‭ ‬Karena dihiasi banyak barang dari Jawa itulah,‭ ‬ruangan tersebut diberi nama Java Room.

“‬Barang-barang ini koleksi nenek saya.‭ ‬Nenek saya suka seni,‭ ‬termasuk barang-barang seni dari Jawa,‭ ‬Indonesia,‭” ‬kata Count Anton Wolfgang von Faber-Castell,‭ ‬chairman dan chief executive officer‭ (‬CEO‭) ‬Faber-Castell AG.‭

Pria yang hobi main tenis dan ski itu menyebutkan,‭ ‬usia furnitur Jawa tersebut hampir sama dengan Kastil Faber-Castell.‭ ‬Sudah lebih dari satu abad.‭ “‬Nenek saya mendapatkannya dalam sebuah pameran di Paris,‭ ‬Prancis,‭ ‬pada‭ ‬1900-an,‭” ‬ucapnya sembari mengernyitkan dahi.

Anton mengaku tak tahu banyak sejarah benda-benda kuno itu.‭ ‬Tapi,‭ ‬dia mengagumi keindahan ornamen ukiran pada mebel yang dinilai eksotis.‭ “‬Pasti susah sekali membuatnya,‭” ‬ujarnya sambil memandangi satu per satu furnitur koleksi keluarganya tersebut.

Alumnus sekolah bisnis di Swiss itu begitu menyukai Java Room.‭ ‬Hanya,‭ ‬ada hal yang dia anggap mengganggu.‭ ‬Di ruangan tersebut ada beberapa benda antik lain yang bukan dari Jawa.‭ ‬

Di antaranya,‭ ‬partisi dari Jepang,‭ ‬guci dari Tiongkok,‭ ‬serta hiasan gajah dari India.‭ “Karena itu,‭ ‬saya ingin melengkapi koleksi benda-benda di Java Room dengan benda-benda kuno yang lain.‭ ‬Biar seirama,‭” ‬ucapnya.

Kedatangan Jawa Pos ke kastil yang dibangun pada‭ ‬1903‭ ‬itu merupakan rangkaian International Media Trip yang diprakarsai Faber-Castell pada‭ ‬15‭”‬17‭ ‬Juli.‭ ‬Kastil Faber-Castell berada di kompleks pabrik yang berlokasi di perbatasan Kota Nurenberg dan Stein.‭

‬Kastil dengan tiga lantai tersebut berada di tengah taman yang asri.‭ ‬Pohon-pohon tua seolah memayungi bangunan karya arsitek Theodor von Kramer yang begitu tersohor itu.

Di dalam kastil,‭ ‬memang tersimpan banyak benda kuno yang menarik diamati.‭ ‬Di lantai dasar,‭ ‬ada sebuah pensil kuno yang dibuat secara tradisional pada abad ke-16.‭ ‬Pensil itu berupa grafit yang diapit dua kayu.‭

Alat tulis sederhana tersebut ditemukan dalam restorasi sebuah rumah di Jerman pada abad ke-17.‭ “‬Pensil ini tidak diproduksi Faber-Castell.‭ ‬Tapi,‭ ‬barang ini adalah bagian dari sejarah pembuatan pensil,‭” ‬jelas Heinz Sommer,‭ ‬pemandu tur.

Kastil Faber-Castell sebenarnya didirikan sejak‭ ‬1840.‭ ‬Hanya,‭ ‬kastil yang dibangun Baron Lothar von Faber itu masih belum sempurna.‭ ‬Baron merupakan generasi keempat dalam kerajaan bisnis Faber-Castell.‭ ‬Dia menjadi komando perusahaan stasionari itu pada‭ ‬1839‭ ‬hingga‭ ‬1896.‭ ‬Pada‭ ‬1903‭”‬1906,‭ ‬kastil dibangun lagi hingga seperti sekarang.‭

Nah,‭ ‬pembangunan kastil tersebut menjadi tonggak sejarah karena berbarengan dengan perubahan nama perusahaan.‭ ‬Awalnya,‭ ‬perusahaan yang didirikan pada‭ ‬1761‭ ‬itu bernama Faber saja.‭ ‬Nama tersebut merupakan nama keluarga Faber yang tersohor sebagai saudagar hebat di Jerman.

Pada generasi kelima,‭ ‬perusahaan dipimpin Baron Wilhelm von Faber.‭ ‬Pria yang wafat menjelang usia‭ ‬42‭ ‬tahun itu memiliki tiga anak,‭ ‬dua laki-laki dan seorang perempuan.‭ ‬Dua putranya kemudian meninggal dalam usia muda.‭ ‬Karena itu,‭ ‬perusahaan diwariskan kepada putrinya yang bernama Baroness Ottilie von Faber.‭

Ottilie yang gemar dengan benda seni kemudian menikah dengan Count Alexander zu Castell-Rudenhausen.‭ ‬Alexander juga berasal dari keluarga pebisnis andal.‭ ‬Pernikahan dua keluarga saudagar itu berdampak pada penggabungan nama perusahaan.‭ ‬Dari awalnya Faber menjadi Faber-Castell. Pernikahan tersebut membuat ekspansi bisnis Faber-Castell semakin luas.‭ ‬Pasangan itulah yang membangun kastil yang bercitarasa seni tersebut.

Ada ruang tamu klasik gaya Prancis,‭ ‬perpustakaan Renaisans,‭ ‬pintu yang mengandung unsur khas Romawi,‭ ‬dan sebuah ballroom bernuansa gothic.‭ ‬Di lantai atas terdapat aula untuk perayaan dan resepsi untuk tamu kaum bangsawan,‭ ‬politisi,‭ ‬serta pebisnis.‭ ‬Sementara itu,‭ ‬Java Room dikhususkan untuk menyimpan benda-benda seni asal Jawa koleksi Ottilie.‭

Namun,‭ ‬tak lama keluarga Faber-Castell tinggal di kastil yang begitu megah itu.‭ ‬Saat perang dunia meletus,‭ ‬mereka meninggalkan puri yang mereka banggakan tersebut pada‭ ‬1939.‭ “‬Bangunan ini sempat dijadikan markas tentara Jerman,‭” ‬papar Heinz.

Beberapa tahun kemudian,‭ ‬kastil berpindah tangan.‭ ‬Bangunan keluarga Faber-Castell tersebut dijadikan markas berkumpulnya wartawan.‭ ‬Bukan hanya jurnalis dari Jerman,‭ ‬para pemburu berita dari sejumlah negara juga tinggal di sana.‭ ‬

Dari kastil itulah berita-berita mengenai seputar Perang Dunia II dikirimkan.‭ ‬Saat perang berakhir,‭ ‬kastil tak langsung kembali ke empunya.‭ ‬Kastil itu masih menjadi mes bagi orang-orang asal Amerika.

Setelah menjadi bagian dari sejarah perang,‭ ‬kastil ditinggalkan begitu saja.‭ “‬Sejak‭ ‬1953,‭ ‬tempat ini dibiarkan kosong selama‭ ‬30‭ ‬tahun.‭ ‬Tidak ada yang meninggali,‭” ‬papar Heinz yang mengaku pernah berkunjung ke Indonesia.

‬Anton yang menjadi chairman dan CEO Faber-Castell sejak‭ ‬1978‭ ‬kemudian berpikir untuk merestorasi kastil.‭ ‬Sebelum memimpin perusahaan stasionari itu,‭ ‬Anton bekerja di perusahaan lain.‭ ‬Kelihaian dalam berbisnis membuat dirinya terpilih menjadi pemegang komando terakhir perusahaan keluarga tersebut.

‬Tak hanya piawai dalam manajemen,‭ ‬Anton juga punya darah seni seperti pendahulunya.‭ ‬Karena itu,‭ ‬Anton yang membangun banyak pabrik di banyak negara tersebut juga merestorasi kastil keluarganya.

‬Tentu tak mudah mengembalikan wajah kastil warisan moyangnya itu.‭ ‬Dia butuh waktu tahunan.‭ ‬Apalagi harus mengembalikan pernik-pernik atau benda sejarah yang sudah porak-poranda karena perang.

‬Buku perubahan nama perusahaan dari Faber menjadi menjadi Faber-Castell,‭ ‬misalnya.‭ ‬Buku yang disahkan Kerajaan Jerman itu ditemukan di Amerika Serikat.

Ketekunan dan kesabaran Anton berbuah manis.‭ ‬Kini kastil itu kembali berdiri tegak.‭ ‬Hampir seluruh properti milik keluarganya menghiasi bangunan eksotis tersebut.‭ ‬Misalnya,‭ ‬buku-buku di perpustakaan yang kini berjajar rapi dalam lemari.

Benda-benda antik juga bertebaran menghiasi kastil.‭ ‬Salah satunya adalah goresan pensil pelukis Vincent van Gogh.‭ ‬Pelukis asal Belanda itu mengirim surat kepada teman sekaligus mentor seninya,‭ ‬Anthon van Rappard.‭ ‬Dalam suratnya pada Juni‭ ‬1883‭ ‬tersebut,‭ ‬Van Gogh mengagumi pensil Faber-Castell yang dia gunakan menggambar.‭(*)

Komentar