Ramadan Pedagang Musiman Menjamur

Tumbuhnya budaya konsumtif pada masyarakat saat puasa dilihatnya sebagai peluang, sehingga menumbuhkan jiwa wirausaha pada sebagian warga yang menjadi pedagang musiman setiap Ramadan tiba. Alhasil, usaha musiman tersebut sulit dibedakan antara kegiatan ekonomi murni dengan budaya saat datangnya bulan puasa yang berkembang di masyarakat.

Apipi Albantany – Kota Serang

Geliat perekonomian Kota Serang semakin menunjukan perkembangannya. Hal itu terlihat banyaknya investor yang masuk dan berusaha di Kota Serang. Sebagai ibu Kota Provinsi Banten, Kota Serang salah satu kota seksi untuk kegiatan perekonomian, terutama ekspansi usaha pada berbagai bidang.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, kesibukan warga, kemacetan dan dampak lainnya dari pertumbuhan ekonomi sudah menjadi fenomena sehari-hari terjadi di Kota Serang. Hal itu juga berpengaruh saat Ramadan tiba.

Budaya konsumstif, instan dan serba mudah lambat laun menjadi karakter dan budaya warganya. Budaya ngabuburit sambil memasak sudah semakin terkikis, karena orang sudah mulai sibuk kerja. Sekalipun ada waktu, ngabuburit lebih suka diisi dengan nongkrong, jalan-jalan di Mall, game dan melihat televisi.

Mencari makanan yang siap saji menjadi bagian untuk mengisi ngabuburit. Jawaban dari fenomena ini, bermunculanlah pedagang musiman, khususnya berbagai jajanan untuk buka puasa. Warga semakin dimanjakan dengan mudahnya mencari makan siap saji.

Apabila menyusuri berbagai jalan di Kota Serang, pedagang jajanan buka puasa hampir hadir di semua titik, diantaranya, di sepanjang Jalan Sudirman dan Ahmad Yani, Kedalingan, Abdul Fatah Hasan, sekitar alun-alun, termasuk di halaman Masjid Agung Atsauroh, Kawasan Pasar Lama dan Pasar Rau.

Berbagai makanan untuk buka puasa, baik makanan khas daerah Kota Serang, seperti ketan bintul, suer (makanan berwarna dari ketan, red) dan makanan lainnya sangat mudah didapatkan. Begitu pula dengan berbagai minuman segar.

Selain karena tingginya permintaan jajanan untuk buka puasa, menjadi pedagang musiman tersebut sangat mudah. Tidak membutuhkan modal yang banyak, atau tempat yang luas. Cukup dengan modal kreatifitas dalam membuat jenis makanan, sebuah meja atau gerobak sudah bisa menjadi pedagang makanan untuk buka puasa. Kemudahan inilah yang menjadikan berwiraswasta pada bulan puasa bisa dilakukan siapa saja.

Salah tokoh Kota Serang, Nuraeni menuturkan, melihat peluang usaha pada bulan puasa, ia mengajak warga sekitar untuk memanfaatkan halaman rumahnya yang lumayan luas untuk berjualan.

Hal itu dilakukan, untuk menumbuhkan jiwa wirausaha kepada masyarakat. Selain itu ia ingin membantu warga yang berkeinginan untuk berjualan, tapi tidak punya tempat untuk berusaha.

“Takut warga yang ingin berjualan tidak mampu membayar lapak, saya persilahkan untuk berjualan di halaman rumah saya. Terutama kepada ibu rumah tangga yang mempunyai keahlian membuat makanan, bisa dimanfaatkan pada bulan puasa ini. Jika usahanya menguntungkan, bisa jadi usahanya bukan hanya pada bulan puasa, tapi bisa berlanjut pada hari-hari berikutnya,” kata perempuan yang merupakan Ketua DPRD Kota Serang tersebut.

Selain itu, lanjut Nuraeni, memfasilitasi pedagang untuk berjualan di halamannya, agar pembeli tidak terkonsentrasi di Masjid Agung Atsauroh, Pasar Lama dan Pasar Rau sehingga menimbulkan kemacetan.

Warga bisa berbelanja dengan nyaman dan nyantai pada tempat lainnya. “Untuk saat ini yang berjualan baru ada beberapa orang. Saya berharap pedagang bisa lebih kreatif, sehingga bisa lebih menarik pembeli,” ujar Nuraeni.

Salah satu pedagang yang berjualan di Kedalingan, Rusminah mengungkapkan, barang dagangannya selalu habis terjual, bahkan pembeli yang datangnya mendekati waktu buka selalu tidak kebagian. Hal itulah yang membuat dirinya semakin tertarik untuk terus berjualan setiap bulan puasa.

“Pembelinya lumayan banyak, dari warga sekitar sampai yang sengaja datang untuk mencari makanan buka puasa. Mungkin juga, yang tidak kebagian jajan di tempat lain,” ungkanya.

Menurut Rusminah, dirinya berjualan hanya pada bulan puasa, sedangkan hari-hari biasanya hanya sebagai ibu rumah tangga. Meski demikian, karena sudah rutin dilakukan warga sudah mengetahui tempatnya berjualan. “Saya hanya berjualan kolek, gorengan, lauk pauk, dan makanan lainnya. Saya hanya memanfaatkan bulan puasa saja,” ucapnya.

Salah seorang pembeli, Indah (35) mengakui, jajan untuk buka puasa merupakan langkah praktis dengan menu sesuai dengan yang diinginkan. Selain itu, membeli jajanan terkadang hanya untuk melengkapi makanan buka puasa yang sudah ada di rumahnya.

“Jika tidak membuat kolek, ya beli kolek. Tapi jika sudah ada, saya beli makanan lainnya. Tapi jajan untuk buka puasa hal yang rutin dilakukan,” tuturnya.(*)

Komentar