Gadis Banten Nyaris DiJual
SERANG,BP- Seorang gadis asal Kecamatan/Kabupaten Pandeglang nyaris menjadi korban traffiking (perdagangan manusia) di Korea Selatan. Korban berhasil diselamatkan setelah sebelumnya dicekoki soju, minuman keras khas Korea di hari pertama bekerja. Kini dara berwajah manis itu telah kembali ke pangkuan orangtuanya, setelah 20 hari berada dalam kegamangan.
Diperoleh keterangan, korban sebut saja bernama Mawar (20), tergiur bekerja di Negeri Ginseng setelah ia berkenalan dengan seseorang yang mengaku kameraman televisi terkemuka di tanah air. Pria berinisial ID yang selanjutnya membawanya berkenalan dengan seorang Agency di Ciracas, Jakarta Timur, pada Januari 2011 silam.
Pada Agency itu, ia kembali dikenalkan dengan seorang wanita berinisial DN, yang selanjutnya membawanya ke sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja khusus hiburan yakni PT.Kamajaya Divasindo, sebuah perusahaan penyalur jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) yang terletak di Jakarta Timur.
Sejak pertemuan awal tahun lalu itu, korban tak langsung memutuskan untuk berangkat. Niatannya untuk bekerja di luar negeri baru disetujui pada April 2012, setelah mendapat persetujuan orangtua. Kedua orangtua Mawar setuju memberangkatkan anaknya ke Korea, merasa yakin setelah membaca isi kontrak kerja anaknya tersebut.
Diantaranya, bekerja sebagai penyanyi dan menerima gaji sebesar Rp4 juta perbulan bersih setelah dipotong macam-macam, dengan kontrak kerja dua tahun. Namun sayang, kedua orangtua korban tak mendapat salinan kontrak kerja itu. Orangtua korban hanya dibolehkan membacanya saja, namun tak diperkenankan memiliki salinannya.
Nahas, setibanya di Daegu, sebuah kota metropolitan terbesar ke empat di Korea Selatan, di hari pertama kerja, pada Senin (2/7) lalu, Mawar langsung merasakan ketidaknyamanan. Ia dicekoki minuman keras, dan dipaksa-paksa untuk mabuk. Tak hanya itu, dia pun mendapat perlakuan kasar dari para tamu tempatnya bekerja.
Agus Setiawan, dari Tim Pengacara Muslim (TPM) Provinsi Banten, mengaku mendapat pengaduan dari orang tua korban, satu hari setelah anaknya berada di negeri ginseng tersebut.
Anaknya berhasil menghubungi orang tuanya, dan mengadukan nasibnya yang bekerja tidak sesuai kontrak. “Di hari pertama bekerja, korban dipaksa untuk meminum minuman keras, sampai akhirnya shock,” jelas Agus, saat menggelar temu wartawan, Minggu (22/7) di Kantor Pengacara Asrek.
Dikatakan Agus, korban berhasil dipulangkan setelah ia melakukan koordinasi dengan TPM Indonesia dan menghubungi Jaringan Komunitas Al-Ikhlas di Korea. Setelah empat hari berada di Korea, korban pun akhirnya berhasil dievakuasi ke KBRI Korea Selatan.
“Ini kita lakukan sangat cepat, karena khawatir korban akan dijadikan korban traffiking bila lambat sehari saja dalam penangannya. Setelah mendapat pengaduan, kita langsung koordinasi. Dan selanjutnya kita menghubungi Komunitas Jaringan Muslim Al-Ikhlas di Korea. Jaringan ini konsen mengurus para TKI yang bekerja tidak sesuai kontrak,” jelas Agus.
Kembali dijelaskan Agus, untuk bisa memulangkan korban tidaklah mudah. Dihari kedua bekerja, korban sempat shock dan nyaris hilang kontak. Namun akhirnya pada hari ketiga, korban kembali bisa berkonumikasi. Akhirnya Jaringan Komunitas Muslim Al-Ikhlas meminta korban kembali bekerja, dan pura-pura pingsan saat bekerja. Upaya itu ternyata berhasil. Korban pun dilarikan ke rumah sakit. Ketika masuk rumah sakit itulah korban berhasil diselamatkan, dan langsung dievakuasi ke tempat aman.
“Selanjutnya korban dievakuasi ke KBRI dan berhasil dipulangkan,” jelasnya, seraya mengatakan, jika kasus itu sudah dilaporkannya ke Polda Banten untuk ditindak lanjuti. Namun, hingga kemarin belum ada perkembangan.
Wajah Mawar, hingga kemarin masih diselimuti kesedihan. Terlebih ketika disinggung tentang ia saat berada diKorea. Kendati demikian ia merasa bersyukur bisa pulang selamat dari ancaman yang menakutkannya itu.
Mawar yang didampingi ibunya kemarin, mengisahkan, jika ia nekat bekerja di Korea karena diiming-imingi akan diorbitkan menjadi seorang penyanyi terkenal. Ia merasa percaya kepada seorang oknum kameraman televisi swasta nasional yang menjajikan pekerjaan itu.
Ia pun mengaku sempat mengikuti audisi, bahkan hingga ia pun sempat menjalani shooting pengambilan gambar untuk video clif, yang dilakukan di rumahnya di Pandeglang. Namun ternyata, semua itu hanyalah tipu muslihat yang menjebaknya. (DAM/CR-1)




