Dari Tradisi Mandi Gede, Nyekar Hingga Ngabedug

Entah siapa yang memulai, dan tak ada yang tahu kapan tradisi Mandi Gede (mandi besar, red), Nyekar atau ziarah kubur serta Ngabedug (tabuh bedug, red) membudaya di sebagian masyarakat wilayah Pande-glang. Namun kondisi seakan menjadi tradisi yang wajib dilakukan. Sepekan lagi datangnya Ramadan, kehangatan menyambutan datangnya bulan penuh berkah itu telah terasa.

Ari Supriadi – Pandeglang

Kaprah. Demikian sebagian warga masyarakat Kabupaten Pandeglang menyebutkan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Sebuah kata yang memberikan makna, tradisi warga atau kebiasaan. Ya, tradisi menyambut datangnya Ramadan, bisa jadi berbeda-beda di setiap daerah. Tak terkecuali di Kabupaten Pandeglang.

Di Kabupaten berjuluk Kota Santri itu, sepekan menjelang datangnya Ramadan, kehangatan Ramadan sudah terasa. Hampir setiap hari, warga pun tumpah ruah melakukan mandi bersama di tempat-tempat pemandian umum, dari mulai kolam pemnadian hingga sungai.

Salah satu lokasi pemandian umum yang sudah sangat familiar di wilayah Pandeglang adalah pemandian Cikoromoy dan Batu Quran. Kedua lokasi pemandian yang terletak di Desa Kadubungbang, Kecamatan Cimanuk, menjadi pilihan utama. Lantaran, dilokasi itu selain bisa melaksanakan tradisi, masyarakat juga bisa menikmati suasana libur yang menyenangkan.

Seperti halnya, Minggu (15/7) kemarin. Ratusan warga memadati tempat pemandian umum teserbut. Anak-anak, muda-mudi, hingga para orang tua terlibat dalam riuhnya tradisi mandi bersama menyambut ramadan. Sejumlah warga yang berhasil dijumpai BANTEN POS mengaku, mereka sengaja datang ke Cikoromoy dalam rangka Mandi Gede menyambut datangnya ramadan.

Yusup Supriyadi, salah seorang warga yang datang dari  Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mengaku sengaja melakukan mandi besar untuk menghadapi bulan puasa lebih awal.

Sebab kata dia, dirinya hanya memiliki waktu libur diakhir pekan. Sehingga dirinya menarik lebih awal acara tradisi mandi besar jauh sebelum puasa tiba. “Ini kan Minggu terakhir menjelang puasa, jadi sekalian saya manfaatkan untuk mandi besar di Cikoromoy. Namun nanti satu hari menjelang puasa, saya juga akan mandi besar lagi di Rangkasbitung,” ungkapnya.

Dirinya berharap, setelah melewati tradisi mandi gede semua kotoran didalam jiwa dapat hanyut terbawa air dan kembali suci pada saat melaksanakan puasa nanti.  Selain tradisi mandi gede, kata Yusup, biasanya tradisi lain yang secara rutin dilaksanakan menjelang datangnya bulan Ramadan yaitu nyekar ke makam keluarga. Tujuannya yaitu untuk mendoakan keluarga yang lebih dulu meninggal dan berharap di bulan puasa nanti mendapat keberkahan dari Allah SWT.

Keramaian juga tampak bukan hanya di kolam-kolam pemandian umum, namun juga disejumlah tempat pemakaman umum dan komplek pemakaman keluarga, di berbagai tempat. Bahkan mereka yang melakukan tradisi Nyekar, bukan hanya masyarakat yang tinggal di sekitar komplek pemakaman namun juga ada yang datang dari Jakarta, bahkan dari Lampung.

Seperti halnya keramaian di tempat pemakaman umum (TPU) Kadurucak, Kampung Cibulakan Batu Quran, Desa Kadubungbang. TPU Kadurucak yang memiliki luas sekitar satu hektar ini kebanyakan berisi makam warga setempat dan diprediksi sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Sukra, salah seorang pejaga makam mengaku, lokasi komplek pemakaman itu sudah ramai dikunjungi sejak Minggu lalu. Para penziarah bukan saja warga yang berasal dari lingkungan setempat, namun juga datang dari Lampung dan Jakarta.

Hal itu tejadi karena, beberapa warga asli Desa Kadubungbang sejak puluhan tahun merantau ke luar daerah dan kembali ke tanah kelahirannya untuk sekadar bersilaturahmi dengan keluarga yang masih hidup dan mendoakan yang telah mneinggal. “Sejak satu minggu ini sudah banyak warga yang ziarah. Tradisi ini selalu terjadi begini dari tahun ke tahun,” katanya.

Sejumlah tradisi yang kerap dilakukan warga di wilayah Kabupaten Pandeglang, diakui Ustad Holil tokoh masyarakat Kampung Garokgek, Desa Kadubungbang, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Menurutnya,  hal yang biasa dilakukan yakni mandi gede, membersihkan makam dan nyekar, serta Ngabedug (Tabuh Bedug).

Ustad Holil mengaku dirinya tidak tahu persis kapan beberapa tradisi menyambut datangnya Ramadan itu dimulai. Namun dirinya meyakini jika semua tradisi itu memiliki makna dan pesan moral yang mendalam jika semua orang yang melaksanakannya dengan ikhlas.

“Saya tidak tahu sejak kapan tradisi ini dimulai, namun semua itu baik untuk dilaksanakan. Semua masyarakat melaksanakan tradisi ini dengan penuh keriangan, saya berharap masyarakat tetap mempertahankan tradisi ini,” harapnya.

Kata dia, tradisi Ngabedug biasanya dilaksanakan satu hari menjelang datangnya Ramadan. Ngabedug biasa dilakukan di musala atau masjid dan kebanyakan di tabuh oleh remaja dan anak-anak dari pagi hari hingga menjelang magrib. Datangnya ramadan pun begitu terasa, dan disambut dengan sukacita.*

Komentar