Libur, Anak SD dan SMP Jadi Anjal

SERANG, BP – Memasuki liburan sekolah, jumlah anak jalanan yang berkeliaran di Banten terutama di Kota Serang meningkat. Beberapa anak jalanan yang terjaring razia masih berstatus pelajar baik yang duduk di sekolah dasar maupun sekolah menengan pertama.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Banten, Nandy Mulya mengungkapkan, dari hasil pengamatan yang dilakukan Dinas Sosial kabupaten/kota bekerjasama dengan Satuan Polisi Pamong Paja di beberapa titik, sebagian besar anjal yang saat ini berkeliaran masih berstatus pelajar.

“Dan dari hasil pengamatan tersebut kita data dan temukan fakta bahwa mereka di jalanan hanya memanfaatkan waktu libur saja,” ungkap Nandy saat dihubungi watawan, Minggu (3/7).

Masih kata Nandy, sebagian besar anak sekolah yang menjadi anjal karena dipengaruhi lingungan sekitar, terutama ajakan teman-temannya baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan rumahnya.

“Dari data tersebut, beberapa anjal sudah diketahui asal sekolahnya. Dan terus kita telusuri. Pada saat dilakukan penelusuran ke pihak sekolah, para siswa tersebut telah berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan lagi,” kata dia.

Menurut Nandy, setelah dilakukan penelusuran, Dinsos menemukan tiga tipikal anak jalanan. Pertama, mereka memang disuruh oleh keluarganya untuk mencari nafkah di jalanan.

Kedua, karena pengaruh lingkungan yakni ajakan teman, ketiga, anak tersebut memang sudah dalam tahap yang nakal dan sudah tidak mau mendengar nasehat orangtuanya. “Tipikal yang ketiga ini yang harus diberikan pemahaman secara intensif. Tentu saja langkah-langkahnya harus pelan dan persuasive,” tandasnya.

Dinsos Banten, kata Nandy, telah melakukan gerakan khususnya di Kota Serang bekerjasama dengan Dinsos Kota Serang, dan kecamatan setempat agar pihak sekolah melakukan penanganan secara persuasif terhadap siswa tersebut.

“Penanganan terhadap anjal tidak dilakukan dengan cara razia seperti halnya gelandangan, pengemis ataupun tuna susila. Maka sweeping kemarin pun hanya sebatas menelusuri sekolah dan berasal dari mana saja mereka,” lanjutnya.

Pantauan BANTEN POS, Minggu (1/7) di sejumlah lampu merah di sepanjang Jalan Sudirman, Ahmad Yani, dan Kebonjahe, banyak anjal yang memanfaatkan antrian kendaraan di traffic light. Saat lampu merah, para anjal langsung memburu mobil yang berhenti. Fenomena meningkatnya anjal saat liburan sekolah, hampir terjadi tiap tahun.

Darmin (11) salah seorang anjal kepada BANTEN POS menuturkan, mencari uang saat libur sekolah menjadi kebiasaan setiap anak di kampungnya. Mulai dari menjadi tukang semir hingga gamen. Dia mengaku hanya ikut teman-temannya.

“Uang yang kami dapatkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Daripada diam saja lebih baik saya ikut mereka,” kata murid kelas IV SD warga Kelurahan Sukawana tersebut.

Berdasarkan pengakuan Darmin, menjadi anjal terpaksa dilakukan karena kondisi ekonomi keluarga. Kebanyakan dari mereka tergolong keluarga kurang mampu. Sehingga, liburan sekolah digunakan untuk mencari tambahan uang jajan atau biaya sekolah. “Lumayan untuk jajan tidak harus minta orangtua,” ujar Darmin.

Anjal yang lainnya, Tatang (10) mengakui, dalam sehari ia bisa dapatkan uang Rp40 hingga Rp50 ribu. Uang yang didapat ia kumpulkan untuk membeli buku dan bayar sekolah.

Ia membenarkan bahwa tidak sedikit temannya yang hanya ikut-ikutan karena tidak punya aktivitas saat liburan. “Banyak juga yang melihat saya, lantas ikut-ikutan. Ada yang jualan kantong plastik, tukang semir atau mengamen,” ucap Tatang.

Kepala Dinas sosial (Dinsos) Kota Serang, Syamsuri Dahlan mengakui,pergerakan anjal di musim liburan sekolah selalu mengalami peningkatan.

Sama seperti Nandy, Syamsuri menyatakan bahwa keberadaan anjal itu disebabkan tiga faktor, pertama ada anjal yang memang disuruh orangtuanya untuk menjadi anjal karena keterbatasan ekonomi, kedua anjal yang hanya ikut-ikutan karena dipengaruhi lingkungan, dan terakhir ada anak yang menjadi anjal karena susah diurus alias bandel.

“Antisipasinya, di jalan raya itu tugas Satpol PP untuk menertibkan, karena Satpol PP merupakan penegak dan pengawal Perda, terutama Perda tentang Penyakit Masyarakat (Pekat),” katanya.

Dinsos sendiri, lanjutnya, akan melakukan pembinaan dan rehabilitasi. Dinsos juga mengusulkan anggaran untuk pembinaan anjal berbasis pondok pesantren (Ponpes) dalam APBD perubahan.(app/zal)

Komentar