Jepang Terpikat Megaproyek JSS

JAKARTA, BP – Jepang ingin kerjasama dengan Indonesia dalam mengembangkan teknologi jalan dan jembatan. Hal ini terungkap dari kunjungan Wakil Menteri Lahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang, Naoyoshi Sato ke Indonesia. Sato menyampaikan tiga hal dalam pertemuannya dengan Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Hermanto Dardak pekan lalu.

Pertama, seminar Intelligent Transportation System (ITS) salah satunya soal dengan pengembangan jembatan. Sato mendengar adanya rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) dan tertarik untuk bekerjasama di dalamnya. Kedua, mengenai penyediaan tenaga kerja.

“Atas permintaan PU untuk pengurusan tenaga ahli jembatan kelautan, tapi saat ini Jepang tidak bisa memenuhinya untuk jangka panjang. Hanya bisa jangka pendek untuk sementara saja dalam membantu teknologi jembatan di Indonesia,” ucap Sato seperti dikutip dari situs kementerian PU, Minggu (1/7)
Hal ketiga adalah keinginan menyusun seminar di bidang jalan menyusul keinginan untuk mendukung proyek Metropolitan Priority Area (MPA).

“Kami dengan Pemda setempat sedang menyiapkan pra feasibility study untuk JSS, selain dibangun jembatan juga untuk pengembangan kawasan juga, desain fisik akan segera kita laksanakan, kami juga memerlukan tenaga ahli dan sangat berterima kasih kepada Jepang, dan terkait dengan seminar untuk MPA, memang sudah waktunya menetapkan tapi perlu koordinasi dengan sektor terkait,” kata Wakil Menteri PU Hermanto Dardak.

Kunjungan Sato ke Indonesia dalam rangka menghadiri Seminar Intelligent Transportation System (ITS) yang diadakan di Jakarta. Ia juga menanyakan kesediaan PU untuk turut hadir dalam pertemuan Construction Meet di Jepang pada bulan September nanti.

“Kami menyambut baik kunjungan pihak Jepang dan ke depan berharap kami dapat bekerja sama untuk sebuah kesepakatan terutama di bidang ITS (Intelligent Transportation System),” ucap Hermanto.

Sato juga siap memberikan bantuan dan dukungan transportasi untuk solusi kemacetan yang terjadi di Indonesia, menurut Sato, ia mengalami langsung macetnya Jakarta selama kunjungannya ke Indonesia. Sato berharap salah tersebut harus bisa segera diatasi karena hal itu dapat menghambat kelancaran perekonomian.

Dilain pihak, tiga universitas besar di Indonesia, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB), memperpanjang kerjasama mereka.

Tak tanggung-tanggung, dalam kerja sama ke depan, ketiga kampus ini fokus pada pengembangan infrastruktur megaproyek JSS. Penandatanganan kerjasama ketiga universitas dilakukan di Balai Senat UGM dilakukan Kamis (28/6) lalu disaksikan Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Kepala Bidang Peningkatan Mutu Penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UGM Harno Dwi Pranowo menyatakan, tim dari ketiga perguruan tinggi telah menyiapkan pembangunan JSS yang memang sudah dipesan lama oleh pemerintah.

“Dalam perencanaan ini, kami menempatkan diri sebagai akademisi dan tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Rencananya, hasil penelitian dipresentasikan tahun depan sekitar Maret–April,” ujar Harno.

Menurut Harno, kajian yang dilakukan UGM, UI, dan ITB tersebut tidak hanya pada masalah kesiapan infrastruktur, tapi secara keseluruhan, termasuk faktor ekonomi dan sosial terkait keberadaan jembatan terpanjang itu. Perencanaan proyek ini dimulai dengan seminar yang juga dilakukan tahun depan.

Rektor UGM Pratikno bertutur, kesepakatan kerjasama tersebut dilakukan dalam rangka mendorong Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3I) dalam bidang infrastruktur yang progresif dan berkeadilan.

“Hal ini menjadi pekerjaan berat bagi perguruan tinggi untuk ikut berkontribusi memikirkan pendidikan dalam bidang infrastruktur. Kerjasama juga dilakukan dalam bidang penelitian manajemen infrastruktur yang progresif dan berkeadilan serta pengabdian masyarakat (KKN),” imbuhnya.

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB Wawan Gunawan A Kadir mengimbuhkan, kerjasama tersebut diharapkan mampu membangun bangsa Indonesia sesuai dengan cita-cita. Apalagi setiap perguruan tinggi memang dituntut untuk memiliki konektivitas dan integritas. “Dengan kerja sama akan diperoleh efisiensi pekerjaan, tetapi hasil yang didapat akan jauh lebih maksimal,” imbuhnya.

Diketahui, total panjang JSS direncanakan 29 km dengan lebar 60 meter. Untuk lokasi, 50 km dari Gunung Anak Krakatau dan didesain tahan terhadap gempa serta tsunami. JSS  itu juga akan melintasi tiga pulau, yaitu Prajurit, Sanghiyang, dan Ular. Biaya studi dan jasa engineering dianggarkan Rp1,8 triliun, biaya konstruksi Rp90,2 triliun, serta waktu pelaksanaan konstruksi 6–10 tahun.(dtc/ozc/tim)

Komentar