Dua TKI Asal Banten Tewas
SERANG, BP – Dua tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Banten kembali dikabarkan meninggal. Yang pertama bernama Rusminah (30), warga Kampung Muara Kebon Kelapa RT 04/09, Kelurahan Muara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Lebak. Dia meninggal dunia di Arab Saudi, Senin (25/6) lalu sekitar pukul 15.00 waktu setempat.
Kedua, TKI asal Kampung Sukasari, RT 002/002, Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, bernama Muhammad Syaifuddin (56). Dia meninggal di Qatar pada 15 Mei lalu. Namun Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Qatar baru mengabarkan kepada keluarga Syaifudin, Selasa (26/6).
Kabar kematian Rusminah disampaikan Rahma, kakak kandung korban kepada BANTEN POS, kemarin. Ia mengaku menerima informasi itu dari Ainun, selaku penyalur tenaga kerja yang memberangkatkan Rusminah ke Arab Saudi.
Penyebab kematian Rusminah sendiri diduga akibat serangan Jantung. Saat ini jenazah korban masih berada di Arab Saudi, dan baru akan dipulangkan atau sampai ke tanah air 10 hari kemudian.
“Saya mendapatkan kabar adik saya meninggal dari sponsor yang memberangkatkannya ke Arab, yaitu Ainun, hari ini (kemarin, red) sekitar pukul 14.30 melalui telepon. Informasi yang saya terima, penyebab kematian adik saya itu karena serangan jantung,” ujar Rahma.
Menurut Rahma, Rusminah menjadi TKI ke Arab Saudi untuk memperbaiki ekonomi keluarganya. Sebab profesi suami Rusminah hanya sopir truk yang pendapatannya pas-pasan. Sementara anak mereka lima orang.
“Tapi selama bekerja di Arab Saudi hampir 1, 5 tahun, adik saya tidak pernah mengirim uang untuk keluarganya. Informasinya, selama bekerja di sana dia belum pernah terima gaji. Gaji yang selama diharapkan hanya dijanjikan oleh majikannya,” ungkapnya sedih.
Untuk memastikan kabar kematian Rusminah, kata Rahma, salah seorang anggota keluarganya sudah berangkat ke Jakarta untuk mencari informasi dari pihak perusahaan yang memberangkatkan yakni PT Trias Duta.
“Kami pernah mengirim surat ke PT Trias Duta melalui Kantor BP2TKI (Badan Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, red) di Serang. Kami minta agar adik saya dipulangkan saja, karena kabarnya tidak pernah menerima gaji,” katanya.
Sementara itu, Suprapto, Kabid Penempatan Tenaga Kerja Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kabupaten Lebak mengaku belum tau apakah Rusminah tercatat di Dinsosnaker Lebak atau tidak. “Maaf kami belum tahu, kebetulan juga kami sedang ada di luar kantor,” kilahnya.
Pada bagian lain, keluarga Muhammad Syaifuddin yang dikabarkan tewas di Qatar mengungkapkan, KBRI Qatar tidak mau memulangkan jenazah Syaifuddin karena alasan belum ada konfirmasi dari Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang memberangkatkan Syaifuddin.
“KBRI mengabari berita duka ini siang tadi (kemarin, red). Kami heran kenapa baru dikabari padahal almarhum meninggal bulan lalu,” kata putera Syaifuddin, Yasser Arafat (23) kepada BANTEN POS.
Yasser juga heran mengapa KBRI Qatar tidak mau memulangkan jenazah ayahnya yang telah bekerja di Qatar sejak 1 Januari 2012 lalu. “KBRI bilang mau menguburkan ayah kami di sana. Kami tentu menolak. Keluarga meminta agar jenazah beliau dipulangkan, biar kami urus di sini,” ujarnya.
Masih kata Yasser, KBRI terkesan menutup-nutupi penyebab meninggalnya Syaifuddin. Ia curiga, ayahnya meninggal karena dianiaya. Sebab menurut kabar para mantan TKI di Kresek, majikan di Qatar cenderung kejam terhadap pekerjanya.
“Saat ditanya soal penyebab meninggalnya ayah kami, KBRI bilang beliau meninggal karena kecelakaan, tapi kemudian juga bilang meninggal akibat penyakit jantung. Padahal ayah kami tak punya riwayat penyakit jantung,” papar Yasser.
Sebelum bekerja sebagai supir pribadi di Qatar, Syaifuddin pernah menjadi TKI di Riyadh selama hampir sepuluh tahun. Dan sejak awal tahun lalu, Syaifuddin kembali mengadu nasib sebagai TKI dengan biaya pengurusan di PJTKI mencapai Rp20 juta.
“Biasanya, sebulan sekali ayah kasih kabar. Tapi sejak Mei lalu, tak ada kabar. Dihubungi via ponselnya pun tak pernah aktif. Sejak awal Mei juga kiriman dari Ayah tak datang,” ujar Yasser seraya berharap KBRI dan BNPTKI bertanggung jawab dan mengusut penyebab kematian Syaifuddin.
Kepala BNP2TKI Serang, Sumardik saat dihubungi via ponselnya mengaku baru mengetahui kabar duka tersebut, dan berjanji akan mengusut kasus tersebut. “Ini kasus yang ke sekian di Banten. Dalam tiga bulan ini saja sudah ada tiga TKI meninggal. Kami akan usut ini. Hak-haknya sebagai pekerja, seperti asuransi dan sebagainya juga harus diperoleh keluarga,” tandas Sumardik.(ris/lik)




