Hiburannya Nasyid, Setelah Ceramah Makan-makan

Meski tergolong minoritas, masyarakat muslim di Kiev, Ukraina juga punya tradisi merayakan hari-hari besar Is-lam. Senin (18/6) lalu misalnya, digelar perayaan Isra’ Miraj di halaman Masjid Ar-Rahma Kiev. Berikut laporan wartawan BANTEN POS langsung dari Kiev, Ukraina.

Agung Pamujo-Ukraina

SEKITAR 200 muslim di Kiev menghadiri perayaan Isra’ Miraj yang dipimpin langsung oleh Mufti (pemimpin Islam) Ukraina, Sheik Ahmed Tamim, mulai pukul 18.00 waktu setempat itu (sekitar pukul 22.00 WIB).  Para duta besar negara-negara Islam di Kiev juga hadir, termasuk Duta Besar Indonesia untuk Ukraina, Nining Suningsih Rochiyat.

Nining hadir ditemani suaminya, Yayat Rochiyat dan menjadi satu-satunya wanita yang duduk di deretan depan kursi undangan. Dia satu deret dengan Sheik Ahmed Tamim dan para dubes lainnya antara lain dari Palestina, Iraq, Maroko, Aljazair, Siria, Lebanon, dan Afrika Selatan. Dubes Malaysia di Kiev juga hadir, meski dia bukan seorang muslim.

Alunan lagu-lagu Islam dalam bahasa Arab yang dibawakan kelompok nasyid yang terdiri dari empat wanita dan dua pria membuat saya tidak seperti berada di negara yang pernah tercatat sebagai bagian dari rejim komunis Uni Soviet.

Apalagi melihat yang hadir, meski mayoritas berkulit putih dan rambut pirang atau coklat, tapi hampir semuanya mengenakan baju gamis. Wanita baik tua maupun muda, semuanya berbusana muslim tertutup. Sebagian dari mereka membawa serta anaknya dengan pakaian yang juga identik dengan pakaian muslim pada umumnya.

Sheikh Ahmed Tamim yang juga pemimpin The Religious Administration of Ukrainian Muslims (RAMU) atau lembaga resmi kelompok Islam di Ukraina, bertindak selaku penceramah utama. Dia menyampaikan hikmah Isra Mi’raj.

’’Beliau memaparkan saat Nabi Muhammad menerima perintah salat langsung dari Allah,’’ kata Rustam Gafuri, Wakil Mufti Ukraina yang mendampingi wartawan koran ini untuk menjelaskan berbagai hal mengenai perayaan itu.

Setelah mufti, ada dua penceramah lain yang diberi kesempatan. Yakni, Dubes Palestina, Dr Mohammed Alassad, dan Dubes RI, Nining Suningsih. Menurut Rustam, Dubes Palestina diberi kesempatan karena peristiwa Isra terjadi di Palestina. Yakni, saat Nabi Muhammad dibawa Malaikat Jibril dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina.

Dr Alassad yang memakai setelan jas sore itu membawakan ceramahnya dalam bahasa Arab. Ada seorang wanita penerjemah berdiri di sampingnya, untuk menerjemahkan ke bahasa Ukraina.

Bagaimana dengan Dubes Indonesia? Menurut Rustam, Dubes Indonesia diberi kehormatan untuk memberi ceramah karena Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia.

’’Hubungan kami (muslim Ukraina, Red) dengan Indonesia sangat baik,’’ kata pria yang juga pernah datang ke Indonesia sekitar 5 tahun lalu, atas undangan PB Nahdlatul Ulama itu.

Nining yang berceramah dalam bahasa Inggris, sore itu memaparkan kehidupan umat beragama di Indonesia. Meski pemeluk Islam adalah mayoritas, kata dia, namun tetap menghormati pemeluk agama lain. ’’Kami hidup dalam semangat Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu,’’ kata salah satu diplomat senior Indonesia ini.

Dia juga mengungkapan betapa masyarakat muslim di Indonesia sangat memegang dua prinsip dalam kehidupan sehari-hari. Selain mengutamakan habluminnallah -hubungan vertikal dengan Allah dalam bentuk ibadah- juga tetap mementingkan habluminnanas atau hubungan antar sesama manusia.

Setelah ceramah Nining, dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Hoshamaddin, salah satu pengurus RAMU. Acara utama yang berlangsung sekitar 1,5 jam itu pun usai.

Selanjutnya, undangan dan seluruh yang hadir menikmati hidangan yang sudah disediakan di tenda-tenda sekitar lokasi acara. Menu utamanya nasi kebuli dan gulai daging sapi campur kentang, serta beberapa kue khas Ukraina, salad serta buah-buahan.

Saat makan-makan itulah, muslim yang hadir berkesempatan untuk saling berbincang-bincang. Mereka bukan hanya warga Ukraina, tetapi juga dari negara lain seperti Azerbaijan, Turkmenistan, Rusia dan juga ada beberapa muslim asal Afrika. ’’Memang ini tujuan acara ini. Selain merayakan hari besar Islam juga untuk menguatkan persaudaran antar muslim,’’ kata Hoshamaddin.*

Komentar