Tiga Marinir Korban Selamat Menolak Dievakuasi
Tiga dari empat anggota TNI marinir yang selamat dalam peristiwa tenggelamnya kapal KMP Jaya Kembali, menolak dievakuasi dari Pulau Sanghyang. Ketiganya mengaku, baru akan ke darat jika satu rekannya yang hilang, yakni Sertu Rahman berhasil ditemukan.
“Saya tidak mau dievakuasi ke darat, sebelum Sertu Rahman ditemukan,” ujar Sertu Oman, dalam dialog sambungan jarak jauh dengan Ketua Tim SAR Lanal Banten Lettu Laut KH Tono Novianto, kemarin malam.
Sertu Rahman adalah salah satu korban hilang yang belum ditemukan sampai tadi malam. Ia ditelan ombak dalam tragedi tenggelamnya KMP Jaya Kembali bersama Tamel, salah seorang security, Pondok Kalimaya Putih.
Ketua Tim SAR Lanal Banten Lettu Laut KH Tono Novianto mengatakan, ketiga anggotanya Kopda Eko, Lettu Rosmiadi dan Sertu Oman yang selamat dan mendapatkan pertolongan pertama langsung hingga tadi malam masih bertahan di Pulau Sangiang, dengan empat korban lainnya. Padahal, sedianya Tim SAR akan membawa mereka menuju Merak, Cilegon pada pukul 21.00 WIB.
“Sampai saat ini, kami tidak tahu apakah kondisi mereka sudah fit 100 persen,” papar Tono kepada BANTEN POS, saat dijumpai di Pos Lanal, Pelabuhan Paku, Anyer.
Tono sangat memaklumi solidaritas ketiga rekannya itu. Karena katanya, mereka berkerja dikesatuan TNI bersama. Jadi, jiwa kekeluargaan mereka sangat erat.
Tentang pencarian korban, Tono mengatakan, pencarian tidak mungkin dilakukan hingga malam hari, karena cuaca sangat buruk. Jarak pandang pun terganggu meski adanya lampu sorot. Jadi, pencarian tidak akan maksimal.
Ia hanya berharap, baik Sertu Rahman dan Tamel bisa selamat dari laka laut tersebut. Yang jelas, mulai pagi ini, mereka akan kembali bergerak untuk mencari keduanya.
“Besar harapan saya keduanya bisa selamat. Mudah-mudahan, mereka masih diberi keselamatan,” ucapnya.
Sementara Umi Kulsum, salah seorang korban selamat yang mendapati suaminya meninggal, hingga tadi malam masih terlihat shok. Bahkan Umi tak sedikitpun memberikan keterangan, saat dimintai komentar.
Umi yang mengenakan daster biru tampak sangat terpukul menyaksikan suami tercintanya terbujur kaku di salah satu ruangan Puskesmas Anyer, hingga malam tadi. Sejumlah kerabat Umi mencoba menenangkan dan menghiburnya, agar ia tak larut dalam kesedihan.
“Kami tidak tahu seperti apa peristiwa itu terjadi. Saya mendapat telpon, jika Pak Adang menjadi korban. Ternyata beliau meninggalkan kami,” ujar Dedi Sunardi, salah seorang rekan korban di Balai Besar Konservasi Alam Kehutanan, Provinsi Banten.(ARF)




