Ciwandan Macet, Siswa Jalan Kaki

CIWANDAN, BP – Kemacetan di jalan Cilegon-Ciwandan atau lebih dikenal Jalur Wisata Pantai Anyer, sangat dirasakan warga sekitar. Di ruas jalan milik Provinsi Banten itu, para siswa yang hendak bersekolah harus berjalan kaki hingga sejauh lima kilometer untuk tiba di sekolah mereka.

Nunung Alawiah (13) salah satunya. Kepada BANTEN POS, Senin (11/6), gadis mungil siswi Madrasah Tsanwiyah (MTs) Negeri Anyer itu, mengaku sejak jalan tersebut dibeton, dia harus berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki.

Hal itu terpaksa ia lakukan, karena tidak ingin terlambat masuk sekolah dan tertinggal mata pelajaran. “Pegel banget setiap hari jalan kaki. Mana sekolah saya jauh, terpaksa jalan deh biar gak ketinggalan pelajaran,” keluh siswi Kelas VIII itu.

Gadis yang bertempat tinggal di Lingkungan Randakari, Kelurahan Randakari, Kecamatan Ciwandan itu mengaku tidak tahan dengan kondisi jalan yang sering macet sejak dilakukannya perbaikan. Dia berharap perbaikan jalan itu segera diselesaikan.

“Baju kita juga kalau berangkat sekolah kotor semua kena debu mobil,” ucapnya.
Hal yang sama dikatakan Rafli (14) siswa lainnya. Siswa SMP Negeri 9 Kota Cilegon itu mengaku sering terlambat masuk sekolah. Akibatnya, siswa Kelas VIII itu sering ditegur oleh gurunya. “Sering dimarahin sama Ibu Guru, soalnya dateng ke sekolahnya kesiangan terus,” ujarnya.

Dia meminta kepada Walikota Cilegon, Tb Iman Ariyadi agar bisa memperhatikan perbaikan jalan yang membuat banyak merugikan rakyat. Hal itu dilakukan agar perbaikan jalan itu cepat diselesaikan. “Kita kalau naik angkot malah kesiangan, jadi kita terpaksa jalan kaki. Kami minta Pak Walikota perhatikan masalah ini deh,” harapnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi II DPRD Kota Cilegon, M Tahyar menegaskan, pihak terkait seperti Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Pekerjaan Umum (DPU), pihak kepolisian dan kalangan industri agar duduk bersama mencari solusi terkait kemacetan di jalan Ciwandan itu.

Langkah cepat harus dilakukan agar tidak mengganggu aktivitas warga. “Guna mengatasi kemacetan tersebut seharusnya ada pengaturan kendaraan pada waktu-waktu tertentu. Hal demikian agar kemacetan bisa diatasi,” tegasnya.

Kata Tahyar, seharusnya pada saat jam berangkat kerja maupun pulang kerja, truk reklamasi pengakut tanah PT Krakatau Posco tidak beroperasi. Hal itu dilakukan agar anak sekolah dan karyawan tidak terlambat menuju sekolah.

“Gara-gara kemacetan, siswa di Ciwandan sering terlambat ke sekolah. Kami sering mendapatkan laporan dari orangtua siswa menganai hal itu,” tandasnya.(MAN)

Komentar