PHRI Minta Hapus Image Jalan Jelek
ANYER, BP – Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) dan menjadikan Selat Sunda sebagai sebuah kawasan tersendiri, mendapat sorotan dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang.
Mereka meminta Pemprov Banten tidak melupakan program jangka pendek yang harus dikerjakan untuk menata pariwisata menuju Visit Banten 2013, seperti infrastruktur jalan, pusat informasi pariwisata, mobil pemadam kebakaran serta pusat konter isu tsunami.
“Terlalu dini sebenarya jika mengomentari JSS dan Kawasan Selat Sunda. Harus kita pahami dulu bahwa di sekitar Selat Sunda terutama di Anyer ada daya tarik tersendiri tapi penataannya serta infrastruktur penunjangnya juga masih minim. Maka yang seharusnya dipikirkan saat ini adalah pengembangan lingkup yang kecil dulu, dari Pantai Anyer hingga Pantai Carita terlebih dahulu,” kata Ketua PHRI Kabupaten Serang, Hardomo, di Hotel Patrajasa Anyar, Sabtu (14/4).
Menurut General Manager Pisita Cottage itu, harusnya pemerintah fokus juga untuk menghapus image jelek bahwa jalan menuju kawasan Anyer jelek, terutama dari arah Cilegon-Anyer.
Jalan Taktakan-Anyer dan Palima-Anyer yang digadang-gadangkan sebagai jalan alternatif pun kondisinya juga sama. Image jalan jelek menuju kawasan Anyer, lanjutnya, sudah melekat sehingga wisatawan enggan menghabiskan liburannya di Anyer.
“Kami juga jadi mempertanyakan arah pariwisata Anyer ini mau dibawa ke mana, jika infrastruktur penunjang seperti jalan tidak bisa diselesaikan. Meskipun ada jalan alternatif, tapi kan bus besar tidak mungkin lewat jalan sana. Selain itu saat ini juga kondisinya sama saja memprihatinkan. Meskipun nantinya ada JSS dan penataan Selat Sunda, mestinya tetap harus menjadi perhatian utama,” ungkapnya.
Hal senada dikatakan oleh sekretaris PHRI Kabupaten Serang, Sukirman. Ia mengaku sudah bosan menjelaskan kepada pengunjung tentang kondisi jalan menuju kawasan wisata Anyer ini.
Sebab kenyataannya memang seperti itu. Pihaknya juga tidak bisa berbuat banyak saat wisatawan yang membatalkan kunjungannya akibat jalan yang masih rusak.
“Kita hanya bisa mendorong, potensi yang besar ini jangan menjadi sia-sia. Bagaimana kita mau mempromosikan pariwisata untuk Visit Banten, jika kondisinya juga seperti ini. Kita juga jadi malu pada tamu yang mengeluhkan jalan rusak,” tandasnya.
Hal lainnya, menurut GM Patrajasa Hotel itu, adalah ketidaktersediaan mobil pemadam kebakaran di sekitar Anyer. Padahal potensi kebakaran juga tinggi di sana, sementara mobil pemadam kebakaran semua terkonsentrasi di kota Serang.
“Dengan kondisi jalan yang rusak, sampai ke lokasi pasti sudah habis semua. Pemprov Banten dan Pemkab Serang harusnya mengambil pelajaran dari kasus kebakaran yang selama ini terjadi di Anyer, dan menempatkan satu saja mobil pemadam kebakaran. Untuk tempat, semua hotel pasti bersedia,” paparnya.
Sementara itu, GM Casa Krakatoa Resort, Dian Suhandi menegaskan bahwa hal yang tak kalah pentingnya adalah counter isu tsunami. Pemerintah seharusnya belajar dari pengalaman isu yang beredar. Saat ada isu tsunami, yang paling merugi adalah kawasan wisata Anyer.
“Saat terjadi isu tsunami, dampakyna sangat terasa sekali. Harusnya juga pemerintah tidak lepas tangan, dan harus bisa meng-counter isu,” ungkapnya.
Menurut Dian, tak sedkit tamu-tamunya yang membatalkan kunjungan meskipun pihaknya sudah menjelaskan dengan gamblang.
Harusnya informasi tersebut didapatkan dari pemerintah dan lembaga yang berwenang, untuk membuat pengunjung lebih percaya.
“Kejadian gempa yang terjadi di Aceh kemarin, tidak hanya ratusan pengunjung yang membatalkan kunjungan. Yang ada saja langsung check out,” ujarnya.(ZAL)




