Gempa Aceh Telan 5 Korban

JAKARTA, BP – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (12/4) memastikan bahwa kondisi di Aceh dan sekitarnya sudah mulai normal dan tidak ada lagi pengungsi. “Sebagian besar pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing. Kondisi sudah berjalan dengan normal,” ucapnya.

Ia menegaskan, berdasarkan data terbaru akibat gempa dan tsunami yang mengguncang Aceh tersebut, hingga siang kemarin tercatat sedikitnya lima orang meninggal dunia, 1 orang kritis dan empat mengalami luka ringan.

“Berdasarkan hasil pendataan korban dan kerusakan bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh hingga siang ini (kemarin, red) terdapat  5 orang meninggal dunia, 1 orang kritis dan 6 orang luka ringan,” kata Sutopo tanpa menyebut dimana korban kritis dan luka-luka itu dirawat.

Korban meninggal antara lain Yatim Kulam (70) warga Kota Banda Aceh akibat serangan jantung saat gempa keras terjadi, satu orang pria 39 tahun warga Kabupaten Lhoksemauwe, dua orang warga Kabupaten Aceh Besar Fauziah (60) dan M Yusuf (70), dan Hatijah Hamid (70) warga Kabupaten Aceh Barat Daya.

Seorang anak di Kabupaten Aceh Singkil dikabarkan kritis karena tertimpa pohon saat gempa terjadi. Korban luka-luka 4 orang di Kabupaten  Simeuleu yakni Ferdiasyah (21) warga Simeuleu Barat, Lastri (18) warga Simeuleu Timur, Diana (36) warga Simeuleu Timur, dan Melawati (59) warga Simeulue Timur dan dua orang di Aceh Singkil.

Selain itu, sebuah jembatan di Kabupaten Aceh Barat juga terputus akibat gempa yang terjadi Rabu sore tersebut. Jembatan itu menghubungkan dua kecamatan yakni Kecamatan Jatmalaka dan Kecamatan Samatiga.

Dari Sigli, Aceh dikabarkan, sebanyak 33 narapidana dari ratusan Lembaga Pemasyarakat (Lapas) di Sigli yang kabur saat terjadi gempa  Rabu (11/4) lalu, hingga kemarin dilaporkan belum kembali ke Lapas. Pencarian masih terus dilakukan pihak Lapas dibantu aparat kepolisian.

Kepala Lapas Kota Sigli, Joko Budi Supiyanto kepada Rakyat Aceh (Grup Jawa Pos) mengatakan, saat gempa berkekuatan 8,5 SR melanda Kota Sigli, 206 narapidana kabur karena takut tsunami.

Sejumlah petugas sipir rutan dibantu personeil TNI/Polri hingga kemarin masih melakukan pengejaran terhadap napi yang masih berkeliaran di luar Rutan tersebut. “Jadi sekarang kita masih melakukan pengejaran terhadap 33 orang napi yang kabur,” kata Joko.

Menurut Joko, para napi itu kabur pada saat gempa sedang berlangsung. Mereka kabur karena takut naiknya air laut raksasa yang lebih dikenal dengan sebutan tsunami. Seperti diketahui posisi Lapas Benteng, Sigli hanya terpaut 60 meter dari bibir pantai.” Dan ini lah yang menyebabkan para napi kabur karena khawatir terjadinya tsunami” sebutnya.

Sementara itu, gempa juga menyebabkan dinding beton Lapas Meunasah di Desa Meunasah Manyang runtuh sepanjang 60 meter. Beberapa tembok lainnya terlihat retak-retak berat dan sedang. Bahkan, ada juga yang miring letaknya setelah gempa menguncang kota setempat. Meski begitu, tidak ada korban jiwa maupun luka.

Kepala Lapas Banda Aceh di Desa Meunasah Manyang, Kecamatan Lambaro, Aceh Besar Ridwan Salam mengatakan, beberapa saat setelah gempa pertama terjadi, kekagetannya bertambah karena gempa tersebut membuat tembok pembatas roboh.

Sementara itu, meski masih trauma, ratusan warga pesisir dari lima kampung di Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, akhirnya kembali pulang ke rumah mereka masing masing, Kamis (12/4) setelah mengungsi selama 15 jam.

Para pengungsi ini masing-masing warga dari Kampung Tanoh Anoe, Keude Mane, Meunasah Baroh, Cot Seurani dan Kampung Pante Gurah. Mereka mengungsi ke dataran tinggi untuk menghindari terjadi tsunami pasca yang gempa yang menguncang Aceh 8,5 SR, Rabu lalu.

Lokasi pengungsian warga pertama berada di kawasan Basecamp Saripari Kuala Dua dan Gle Lagang, kecamatan setempat. Sekitar 250 warga dari  Kampung Tanoh Anoe, Keude Mane, Meunasah Baroh dan Kampung Cot Seurani terkonsentrasi di sana. Titik kedua berada di kawasan Kampung Pante Gurah. sedikitnya 150 warga mengungsi ke lokasi tersebut.(JPNN)

Komentar