Miranda Ringankan Nunun
JAKARTA, BP – Lagi-lagi terdakwa kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGSBI) Nunun Nurbaeti mendapat kesaksian ringan. “Padahal, kehadiran Miranda S. Goeltom oleh Jaksa KPK diharap bisa mengungkap asal usul cek pelawat. Namun, Miranda juga tidak tahu darimana asal cek bermasalah itu termasuk peran Nunun.
Dalam persidangan lanjutan di Pengadilan Tipikor Jakarta itu, Miranda menjadi saksi pertama yang dimintai keterangan. Total ada enam saksi baru yang diajukan oleh jaksa KPK. Pertanyaan kepada Miranda kebanyakan untuk mengetahui proses hingga dia menjadi DGSBI, kekerabatan dengan Nunun, hingga pertemuannya dengan beberapa anggota DPR.
Dia langsung menegaskan bahwa rangkaian pertemuan dengan anggota parlemen di Gedung Niaga Jalan Sudirman dan Hotel Dharmawangsa adalah inisiatifnya. Nunun Nurbaeti yang siang kemarin juga hadir tidak disebutnya sebagai inisiator. “Ibu Nunun tidak pernah menawarkan, saya juga tidak pernah meminta,” ujarnya.
Lebih lanjut Miranda menjelaskan, sebenarnya dia malas saat ditawari menjadi DGSBI. Alasannya, dalam pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia (DGBI) 2003 dia kalah dari Burhanuddin. Kekecewaan masih membekas karena Miranda menuding anggota DPR lebih suka menanyakan masalah keluarga ketimbang kompetensinya.
Namun dia menolak kenapa akhirnya mau maju menjadi calon DGSBI karena ada jaminan menang. Termasuk setelah bertemu Nunun yang banyak kenalan anggota DPR. Miranda bilang, saat itu mau maju karena merasa terhormat telah dicalonkan. “Yakin bukan karena ketemu atau tidak, tapi dari keyakinan diri sendiri,” imbuhnya.
Meski demikian, dia tidak menampik pernah melakukan komunikasi dengan Nunun. Itu terjadi sebelum fit and proper test dilakukan. Di pertemuan yang Miranda lupa tepatnya, dia meminta agar didoakan oleh istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun itu. Versinya, tidak pembicaraan lain seperti bantuan dana selain minta doa.
Kalaupun ada pembicaraan yang menyangkut anggota DPR, Miranda masih ingat betul bukan untuk spesifik memilih dirinya. Dia hanya meminta kepada Nunun agar menyampaikan kepada teman-temannya anggota DPR untuk tidak bertanya tentang keluarga. “Saya siap diuji kompetensi apapun tentang perbankan, asal bukan privasi keluarga,” urainya.
Jaminan yang diberikan Miranda, anggota DPR tetap boleh menanyakan apapun termasuk masalah keluarga yang tidak disukainya. Miranda mengaku kalau DPR memiliki hak bertanya apapun meski telah melakukan pertemuan dengannya.
“Perlu saya luruskan, pertemuan saya dengan anggota DPR hanya untuk berbincang, tidak ada penyampaian visi misi,” terangnya.
Miranda juga menegaskan kalau anggota DPR yang ditemuinya bukan karena dendam kalah di pemilihan DGBI 2003. Dia juga mengaku tidak fokus mengundang anggota DPR yang pernah mencercanya soal masalah keluarga di pemilihan sebelumnya. Dia mengaku, memang ingin bertemu dengan anggota DPR itu untuk kenal lebih dekat.
Menanggapi keterangan Miranda, Nunun tidak terlalu banyak mengomentari kesaksian yang diberikan koleganya itu. Dia hanya kecewa dengan Miranda yang tidak mengakui hubungan baik diantaranya. Padahal, Nunun merasa pertemanannya dengan Guru Besar Universitas Indonesia itu sangat dekat. “Saya sedih ibu bilang hanya sebatas kenal,” akunya.
Nunun juga berani bersumpah bahwa dirinya pernah menerima telepon dari Miranda. Isi pembicaraan adalah permintaan untuk menyiapkan pertemuan dengan anggotan DPR di rumahnya Jalan Cipete. “Saya tidak akan menukar (mengubah, red) BAP. Demi Allah, ibu datang langsung dan berbicara supaya diloloskan di fit and proper test,” tegasnya.(JPNN)




