Selat Sunda Strategis Bagi Imigran
CILEGON, BP – Perairan Selat Sunda yang merupakan jalur internasional masih menjadi lalu lintas alternatif imigran gelap yang hendak menyeberang ke Australia dan Selandia Baru.
Bagian Operasi Lanal Banten, Mayor Laut (P) Lukito kepada Banten Pos, Rabu (22/2) mengatakan, imigran gelap yang sering tertangkap di wilayah Perairan Selat Sunda umumnya berasal dari negara konflik seperti Iran, Irak dan negara Timur Tengah lainnya.
Mereka terpaksa meninggalkan negaranya karena negara mereka yang sedang tidak kondusif. “Pilihan mereka biasanya hanya dua negara, Australia dan Selandia Baru,” terangnya.
Dia menjelaskan, Perairan Selat Sunda menjadi pilihan para imigran karena selat yang berada di ujung Pulau Jawa itu lebih dekat dengan negara tujuan mereka. Biasanya, kata dia, para imigran melintasi sekitar Pantai Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang dan wilayah Perairan Banten Selatan lainnya. “Pada tahun 2011 saja lebih dari tujuh kasus imigran yang tertangkap. Awal 2012 sudah dua kasus,” katanya.
Para imigran, lanjutnya, biasa menggunakan jasa nelayan setempat. Sebenarnya, kata dia, nelayan sudah diberi arahan melalui kegiatan sosialisasi agar tidak menerima jasa para imigran yang meminta diseberangkan, namun tetap saja para nelayan itu melayaninya. “Alasannya mungkin karena kebutuhan ekonomi juga,” tuturnya.
Untuk mengantisipasi maraknya imigran gelap yang masuk melalui wilayah Banten, lanjutnya, Lanal Banten terus melakukan operasi rutin di Selat Sunda dan perbatasan Perairan Banten dan Australia.
“Kami punya empat kapal yang siap beroperasi memantau Perairan Selat Sunda yang menjadi wilayah hukum kami. Kapal tersebut diantaranya KAL Tamposo,” ungkapnya.(MAN)




