Keluarga Zainul Menutup Diri

Pascainsiden yang menewaskan Dedi Supriyadi (26) dan Andri (26), dua pemuda asal Cilincing, Jakarta Utara, akibat siraman air keras, suasana rumah Zainul sang “Guru Debus Maut” nampak sepi. Bahkan keluarganya yang dikenal ramah dan suka bersilahturahmi dengan tetangga sekarang lebih menutup diri.

OLEH : M. Satibi – SERANG

Untuk menuju kediaman Zainul yang terletak di Lingkungan Kebanyakan, Kelurahan Sukawana, Kota Serang, tidak sulit. Dari Jalan Serang Raya, dengan menggunakan ojek yang bertarif Rp10 ribu hingga Rp15 ribu sudah sampai ke rumahnya. Bahkan melalui jalan yang hanya cukup dilalui satu mobil tersebut, rumah Zainul yang belum sempat diplester hanya memakan waktu 10 menit.

Kendati baru tiga bulan tinggal di rumah tersebut, Zainul dikenal ramah dan akrab dengan tetangga sekitar. Sehingga tidak sulit untuk mencari rumahnya yang terbilang sangat mencolok, karena sekilas bangunannya seperti gedung sekolah. “Zainul dan keluarganya ramah, makanya saya tidak menyangka kalau Zainul melakukan perbuatan itu,” kata Ny. Muslich, istri Ketua RT 01/01 Lingkungan Kebanyakan.

Ia mengaku, sebelum peristiwa maut itu terjadi, Zainul memiliki kebiasaan khusus, yaitu kerap keluar rumah bersama istrinya dengan menggunakan sepeda motor pada sore hari dan kembali pada malam hari. “Saya tidak paham ke mana perginya. Namun aktivitas seperti itu dilakukan setiap hari,” katanya.

Menurut Ny. Muslich, ia kerap melihat Zainul mengayuh becak keluar rumah. Istri dan anak-anaknya juga dikenal ramah dan suka bertetangga. “Aktivitas keseharian keluarga Zainul sama seperti keluarga lainnya yang tinggal di sini,” katanya.

Sementara itu, Banten Pos pun berupaya mengorek informasi lebih banyak dari penghuni rumah berukuran besar yang tidak diplester tersebut. Namun sayang, kendati terdengar ada aktivitas di dalam rumah, tak seorang pun yang sudi membukakan pintu. Berulangkali pintu rumah itu diketuk, tidak ada tanggapan dari penghuni rumah.

kondisi rumah Zainul tampak sepi. Kini, rumah yang memiliki empang di bagian belakang itu pintunya selalu tertutup rapat. Garis polisi terlihat masih melingkari bagian belakang rumah tersangka, tepat di lokasi yang dijadikan ritual mandi kembang tujuh rupa serta penyiraman air keras yang menewaskan dua korban.*

Komentar