Geger Daratan Bergeser
CIKANDE, BP – Fenomena alam yang terjadi di Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang membuat geger. Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Banten ternyata melahirkan kejanggalan di Kecamatan Cikande.
Menyusul, bergesernya daratan sekitar seluas hampir satu hektar, yang mengakibatkan hilangnya sekitar 13 petak sawah milik warga. Kabar ini langsung menyebar dan ribuan orang pun berduyun-duyun datang ke lokasi ingin menyaksikan keanehan itu secara langsung.
Fenomena alam yang diduga akibat banjir itu terjadi di Kampung Dahu Utara, Desa Parigi, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang. Sekitar, 8000 meter persegi daratan yang bergeser dari posisi semula.
Sebelumnya, daratan yang berupa lahan gambut tersebut berada di sebelah selatan Kampung Dahu Utara, namun kini berada di sebelah utara dan menimbun 13 petak sawah milik petani setempat.
Sementara, lahan bekas daratan sebelumnya kini menganga kosong seperti danau buatan. Tidak diketahui pasti kapan daratan ini pindah tempat. Namun, fenomena yang menyedot perhatian warga tersebut diketahui pasca-banjir besar Minggu (15/1) lalu.
Salah satu warga Kampung Dahu Utara, Karyoto (50), mengaku mengetahui kepindahan daratan ini pada Minggu (15/1) sore sekira pukul 16.00 WIB- 18.00 WIB. Saat itu, tengah terjadi puncak banjir disejumlah wilayah di Banten. Kondisi serupa juga menenggelamkan hektaran sawah di kampungnya, akibat meluapnya Sungai Cidurian.
Kata dia, saat bersamaan, seluruh warga tengah siaga menghadapi banjir sehingga tak memperhatikan daratan yang bergeser yang turut terendam banjir tersebut. “Warga tidak ada yang melihat kepindahan itu, soalnya warga lagi siap-siaga menghadapi banjir. Jam segitu (sore, red) air lagi besar-besarnya,” ujar Karyoto kepada Banten Pos, Senin (23/1).
Pada Senin (16/1) sore, Karyoto dan warga lainnya baru menyadari bahwa daratan yang terletak di tengah-tengah situ yang telah dangkal itu posisinya sudah bergeser sekitar 500 meter dari posisi semula dan kini menutupi 13 petak sawah milik warga setempat.
Hal ini diperkuat Mimin (30), warga yang rumahnya hanya berjarak 50 meter dari situ tempat daratan berada. Menurut kesaksian dia, kepindahan daratan di tengah situ tersebut terjadi dua kali selama puncak banjir pada Minggu (15/1) itu.
Namun, dia pun tak memperhatikannya dengan seksama sebab lagi fokus mengawasi banjir yang merendam perkampungannya. Ia hanya melihat beberapa pohon yang tumbuh di daratan itu berpindah, namun awalnya tak menyangka jika lahannya juga ikut pindah.
“Iya kejadiannya bertahap, dua kali bergeser. Kita sih tidak terlalu memperhatikan, soalnya lagi siap siaga, takut banjirnya sampe rumah kayak dulu lagi.
Tapi memang aneh, kok darat itu bisa kecabut, padahal banjir sekarang kan tidak terlalu besar dibandingkan banjir dulu. Dulu saja tidak kecabut, sekarang kok bisa berpindah gitu,” tuturnya tanpa menjelaskan banjir dulu yang dia maksud kapan terjadi.
Adanya keanehan itu, ribuan warga berbondong-bondong ingin menyaksikan langsung kejadian langka tersebut. Mereka yang datang, ternyata bukan hanya dari wilayah Serang saja. Bahkan ada juga yang berasal dari Tangerang dan Rangkasbitung.
Selain terheran-heran, warga juga meyakini hal gaib dari kejadian ini. Karenanya, mereka pun memanjatkan berbagai doa di tengah daratan yang bergeser itu.
“Bagaimana gak penasaran, kabarnya ada pulau yang pindah tempat. Aneh tapi nyata,” ujar Mujani, warga Balaraja, Tangerang, yang mengaku sengaja datang menyewa mobil bersama rombongan.
Pantauan Banten Pos, Hingga Senin (23/1) sore, ribuan warga tak henti-hentinya datang ke lokasi kejadian. Sebagian besar menggunakan kendaraan roda dua, namun tak sedikit yang datang menggunakan kendaraan roda empat.
Bahkan Iin Solihin (27). Warga Pandeglang secara khusus datang ke lokasi ini karena mendapat informasi dari kawannya melalui jejaring sosial facebook.
“Penasaran aja ingin lihat. Awalnya lihat di dinding facebook teman yang kebetulan orang Serang. Kemudian, dia ngajakin lihat ke sini,” tutur Iin Solihin.
Tentu saja, keberadaan ribuan orang ini membawa berkah bagi warga setempat. Warga sekitar lokasi kejadian memanfaat kedatangan para ‘turis’ dadakan itu dengan cara berjualan.
Tak hanya itu warga juga mengelola parkir hingga menyediakan sarana untuk mencucki kaki, akibat lumpur. Berkah bagi masyarakat setempat juga dirasakan Mimin yang kebagian rezeki nomplok. Sebab, warung kecilnya jadi laku keras melayani para pendatang yang ingin melihat fenomena alam tersebut.(zal)




