Ratusan Hektar Sawah Diserang Tikus dan Wereng
SERANG, BP – Ratusan hektar sawah di beberapa kecamatan di Kabupaten Serang diserang tikus, wereng dan hama penggerek batang. Bahkan di beberapa tempat, tanaman padi juga terkena penyakit hawar daun bakteri atau yang biasa dikenal di kalangan petani sebagai penyakit kresek.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) pada Dinas Pertanian Kehutanan Perkebunan dan Peternakan (DPKPP) Kabupaten Serang, Tata Juarta pada Banten Pos akhir pekan kemarin mengatakan bahwa serangan hama tikus, wereng, dan penggerek batang itu menyerang ratusan hektar di seluruh kecamatan di Kabupaten Serang.
“Serangan hama tikus terjadi di Kecamatan Pontang dan Pamarayan dengan luas lahan yang diserang yakni 32 hektar. Karena musim hujan dan banjir, hama tikus yang menyerang kedua kecamatan tersebut bisa jadi adalah tikus yang migran dari kecamatan lain,” ujar Tata.
Sedangkan wereng batang coklat banyak menyebar di sawah-sawah yang berada di Kecamatan Tunjung Teja, sebanyak 12 hektar, di Padarincang 5 hektar, di Kibin 5 hektar, di Ciruas 1 hektar, dan di Kragilan 6 hektar. “Wereng batang coklat dapat mengakibatkan padi cepat layu dan mati. Serangan wereng itu tidak dapat kita prediksi datangnya kapan. Paling sering, itu jika terjadi di musim hujan dan angin kencang seperti sekarang ini,” ungkapnya.
Selain dua hama tersebut, hama penggerek batang menyerang tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Padarincang seluas 6 hektar, Cinangka 3 hektar, Baros 5 hektar, Kibin 6 hektar, Carenang 60 hektar, dan Pontang 27 hektar. “Paling banyak sawah yang terkena penggerek batang. Ada sekitar 127 hektar sawah yang terkena hama ini,” tuturnya.
Untuk menanggulangi serbuan hama yang dapat merusak tanaman padi itu, Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Pangan DPKPP Kabupaten Serang, Budiyono, mengatakan bahwa petani harus mulai waspada dari sejak mulai pemilihan bibit.
“Dari saat mulai menyemai bibit, petani harus memilih varietas yang tahan terhadap penyakit. Selain itu penanaman padi jenis ketan, harus dikurangi. Karena hama wereng, selalu mengincar padi ketan terlebih dahulu, sebelum menyerang padi jenis lainnya,” kata Budiono.
Ia juga menghimbau petani untuk mengendalikan hama secara terpadu. Pengendalian hama terpadu itu dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami untuk membasminya, seperti burung hantu, elang, dan lain sebagainya. Selain itu, ia mengatakan bahwa petani harus kembali memakai bahan-bahan alami sebagai pestisida.
“Jika menggunakan pestisida kimia, hama sejenis wereng akan semakin kuat. Petani harus mau beralih kembali ke pestisida nabati seperti daun sirsak, nyindi, atau buah gerenuk untuk membasmi hama,” ujarnya.(ZAL)




